Orang yang Tidak Diwajibkan Berpuasa Dan Dalil-Dalil Tentangnya

Puasa bulan Ramadhan adalah wajib bagi setiap mukmin, bahkan puasa juga termasuk ke dalam rukun Islam. Allah memuliakan bulan Ramadhan dengan berbagai kemuliaan yang tidak diberikan kepada bulan lain selain Ramadhan seperti melipatgandakan pahala kebaikan yang dilakukan pada bulan Ramadhan, menurunkan malam Laitul Qadar dan lain sebagainya. Meskipun ibadah puasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib namun ada beberapa orang yang tidak diwajibkan berpuasa. Hal tersebut merupakan keringanan (rukhshoh) yang diberikan oleh Allah kepada setiap hambaNYa. Namun demikian orang yang tidak diwajibkan berpuasa harus membayar fidyah atau mengqhodho puasa yang ditinggalkannya pada bulan-bulan berikutnya.

Orang-orang yang tidak diwajibkan berpuasa

Karena kondisi atau situasi tertentu ibadah puasa bulan Ramadhan tidak diwajibkan untuk orang-orang tertentu karena kondisi fisik atau situasi yang menyertainya. Orang yang tidak diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan bukan berarti menggugurkan kewajiban dari menjalankan ibadah wajib ini, orang tersebut tetap harus menggantinya (qodho) di bulan lain diluar bulan Ramadhan sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan olehnya. Berikut ini orang-orang yang tidak diwajibkan berpuasa

1. Musafir

Musafir adalah orang yang melakukan perjalanan jauh sejauh jarak (yang dianggap) safar. Jarak safar menurut madzhab yang paling kuat (rajih) adalah jarak yang dianggap oleh adat atau masyarakat setempat sebagai safar (Majmu’ Fataawaa, 34/40-50, 19/243). Orang yang melakukan safar boleh untuk tidak berpuasa sebagaimana firman Allah ta’ala :

فَمَن كَانَ مِنكُم مّرِيضاً أَوْ عَلَىَ سَفَرٍ فَعِدّةٌ مّنْ أَيّامٍ أُخَرَ

“Barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain” (QS. Al-Baqarah : 184).

أن حمزة بن عمرو الأسلمي قال للنبي صلى الله عليه وسلم أأصوم في السفر وكان كثير الصيام فقال إن شئت فصم وإن شئت فأفطر

Bahwasannya Hamzah bin ‘Amr Al-Aslami pernah bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam : “Apakah saya berpuasa di waktu safar ?” – Ia adalah seorang yang banyak melakukan puasa – . Maka beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Puasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau” (HR. Al-Bukhari no. 1943 dan Muslim no. 1121).

Hadits di atas (dan beberapa lagi hadits lain) menunjukkan bahwa musafir adalah termasuk orang yang tidak diwajibkan berpuasa karena sedang melakukan safar. Namun demikian bagi siapapun yang berkehendak untuk tetap menjalankan puasa, maka tidak ada larangan baginya sepanjang orang tersebut mampu dan diperkirakan tidak membawa mudlarat terhadap dirinya. Pertimbangan inilah yang terdapat dalam hadits berikut :

ليس من البر الصوم في السفر

“Berpuasa di dalam perjalanan bukanlah sebuah kebaikan” (HR. Al-Bukhari no. 1946 dan Muslim no. 1115)

فكانوا يرون أنه من وجد قوة فصام فحسن ومن وجد ضعفا فافطر فحسن

“Dan mereka (para shahabat) berpendapat bahwa barangsiapa mempunyai kemampuan, maka berpuasa lebih baik baginya. Dan barangsiapa yang merasa lemah, maka berbuka lebih baik baginya” (HR. At-Tirmidzi no. 713. At-Tirmidzi berkata : Hadits hasan shahih; dan Al-Albani berkata : Shahih).

Namun demikian, secara umum safar dapat membuat orang yang tidak diwajibkan berpuasa walau orang yang melakukannya tidak merasakan berat, karena hal tersebut merupakan rukhshah (keringanan) yang diberikan oleh Allah kepada kaum muslimin. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن الله يحب أن تؤتى رخصه كما يكره أن تؤتى معصيته

“Sungguh Allah menyukai dilaksanakan rukhshah (keringanan)-Nya, sebagaimana Dia membenci dilaksanakan maksiat kepada-Nya” (HR. Ahmad 2/108 dan Ibnu Hibban no. 2742. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaaul-Ghalil 3/9 no. 564).

Dan keringanan bagi seorang musafir (salah satunya) adalah berbuka (tidak berpuasa).

Berikutnya: Orang yang Sakit

 

Related Posts

Add Comment