oleh

Kenapa Kita Tidak Dapat Melihat Allah? Ini Jawabannya

Orang mungkin bertanya mengapa kita tidak dapat melihat Allah, meskipun bagi orang beriman dapat berkomunikasi denganNya begitu dekat. Orang-orang beriman dapat menangkap eksistensi Allah dengan keimanannya bukan dengan mata fisik dan indera fisik lainnya yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kekuasaan dan kebesaran Allah dapat dirasakan oleh siapapun bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman meskipun mata fisik mereka tidak melihatNya.

Orang-orang yang mendewakan akal tidak mengakui eksistensi Allah karena mereka tidak melihat Allah, meskipun pada saat yang sama mereka mengakui keberadaan segala sesuatu yang tidak tertangkap oleh penglihatannya. Mereka berakal namun tidak melengkapi akal mereka dengan iman, meskipun tanpa imanpun mereka dapat merasakan keberadaan Allah sebagai Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu.

Alasan Kenapa Manusia Tidak Dapat Melihat Allah

Keteraturan alam semesta ini adalah bukti keberadaan Sesuatu Yang Maha Perkasa, bagaimana matahari, bulan, dan planet dapat berjalan sesuai dengan garis edarnya. Bagaimana seorang bayi yang baru saja lahir dapat menghisap susu dari puting susu ibunya, siapa yang mengajarinya? Sementara selama berada di dalam kandungan dia mendapat asupan makanan melalui tali pusarnya. Bagaimana seekor induk ayam marah ketika anaknya diganggu, sementara binatang adalah makhluk Allah yang tidak berakal, siapa yang menaruh insting kemarahan induk ayam saat anaknya diganggu? Bagaimana jantung bisa berdegub terus untuk memompa darah keseluruh tubuh sementara manusia tidak menggerakkan jantung tersebut? Dan masih banyak hal lain yang menunjukkan keberadaan Sang Pencipta meskipun kita tidak melihat Allah.

Ada beberapa alasan kenapa kita tidak dapat melihat Allah, berikut ini alasannya:

Pertama, tidak ada yang seperti Dia (al-Syura, 42:11). Mata kita, dan indera serta kemampuan lain adalah hal-hal yang relatif, oleh karena itu maka hanya dapat melihat hal-hal relatif lainnya yang termasuk dalam alam eksistensial yang sesuai dengannya. Manusia tidak dapat melihat, mendengar atau mengenali di luar benda eksistensial sehari-hari.

Kedua, tidak ada yang mengatakan bahwa manusia tidak akan melihat Allah. Baik Al-Qur’an dan sunnah Nabi secara eksplisit menyatakan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di surga (jannah). Visi akan sejelas dan pasti seperti melihat “bulan di malam hari ketika sudah penuh” dan “matahari di hari yang tak berawan” (Sahih al-Bukhari).

Terlebih lagi, melihat Allah akan menjadi hadiah terbaik di surga Firdaus; sedangkan tidak melihat-Nya akan menjadi siksaan terburuk dan paling menyakitkan bagi penduduk Neraka. Melihat Allah adalah berkah dan kegembiraan terbesar, jadi hal itu ditahan hingga manusia nanti berada tempat yang penuh berkah dan sukacita tertinggi, yaitu Firdaus, dan itu disediakan khusus untuk orang-orang beriman. Di samping itu, hal ini berfungsi bagi orang beriman sebagai motifasi kuat untuk terus berbuat baik di dunia ini dan tidak pernah bosan atau menyerah untuk selalu beribadah kepadaNya.

Tidak perlu dikatakan lagi bahwa tidak melihat Allah hanyalah dekrit sementara bagi manusia beriman, yang paling dekat dengan-Nya di dunia ini. Melihat Allah di Firdaus juga dapat menyiratkan puncak dari usaha orang-orang beriman yang sungguh-sungguh untuk semakin mendekat kepada-Nya.

Ketiga, kita tidak dapat melihat Allah saat ini dan di sini karena kita berada dalam ruang dan waktu serta materi, sementara Allah berada di luar ruang dan waktu. Waktu dan ruang adalah ciptaan Allah. Allah tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu kita. Konsekuensinya, manusia tidak dapat berpikir, melihat dan merasa kecuali di sepanjang garis waktu, ruang dan materi.

Begitu rintangan yang ditimbulkan oleh faktor ruang dan waktu dunia ini dihilangkan di Akhirat nanti- atau dimodulasi, maka ruang dan waktu tidak akan lagi menjadi penghalang bagi manusia untuk melihat Robbnya. Saat itu melihat Allah akan tampil sangat mungkin dan masuk akal, terutama bagi mereka yang berada di surga.

Bahkan di dunia ini, ada banyak hal yang tidak dapat dilihat manusia secara langsung karena terbatasnya ruang dan waktu. Manusia tidak bisa melihat lebih banyak hal karena terhalang oleh komponen waktu dan ruang yang begitu banyak. Untuk dapat melihat lebih banyak, manusia harus mengatasi, atau menghilangkan, komponen dan pengaruh itu. Karena itu, masalahnya bukan pada benda, akan tetapi pada kemampuan manusia yang terbatas.

Sebagai contoh, seseorang yang duduk di sebuah ruangan tanpa jendela maka akan hanya dapat melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. Untuk dapat melihat ke luar, maka ia harus meninggalkan ruangan itu; artinya, dia harus menghilangkan batas ruangan sebagai penghalang untuk melihat ke luar.

Untuk bertemu seorang teman di kota terdekat yang berada 50 km jauhnya, seseorang harus pergi untuk menemuinya. Hal itu berarti dia harus mengatasi rintangan yang berupa jarak dan waktu yang memisahkan. Prinsip yang sama berlaku juga untuk melihat segala sesuatu yang berada di luar batas ruang tanpa jendela.

Demikian pula, bagi seseorang untuk melihat temannya yang meninggal dua tahun yang lalu, dia harus melakukan perjalanan kembali dalam waktu dua tahun yang lalu atau lebih; artinya, dia harus berhadapan dengan rintangan waktu, atau penghalang yang tidak dapat diatasi, untuk menemui temannya tersebut. Juga, agar seseorang dapat melihat cucu-cucunya di masa yang akan datang, maka ia harus melakukan perjalanan ke masa depan sebanyak yang diperlukan; yang berarti, ia harus kembali menghadapi kesulitan waktu yang tidak dapat disangkal.

Bagaimanapun, untuk melihat dan mengalami hal-hal tertentu, maka manusia harus membebaskan dirinya dari milie fisik dan situasi di mana ia dia berada, sebagai substansi fisik yang merupakan eksistensi dirinya sendiri, yang terkurung dan dipenjara dalam jeruji ruang dan waktu.

Masalahnya adalah tentang manusia dan kelemahannya, diperburuk oleh parameter spasial dan temporal dan kendala di mana ia beroperasi. Ada banyak hal lain di dalam diri manusia, atau di mana dia berada, yang tidak dapat dilihat olehnya, tetapi tidak dapat disangkal keberadaannya dan hal tersebut benar-benar ada. Sebagai contoh di antaranya adalah gelombang radio sebagai jenis gelombang elektronik yang digunakan untuk mengirimkan data dari satelit, jaringan komputer dan radio, atom sebagai blok bangunan terkecil dari materi, udara atau oksigen, sinar ultraviolet, gravitasi, pikiran, jiwa, emosi , partikel kuantum, ukuran sebenarnya dari alam semesta, dll.

Namun, bagaimanapun juga adalah hal yang masuk akal untuk berharap untuk melihat segala sesuatu yang ada namun terhalang oleh ruang dan waktu. Tetapi etik, serta takaran pragmatisme dan akal sehat, diperlukan. Manusia harus menyadari bahwa, sama seperti dalam hal lain, ada aturan fisik, rasional, etis, dan spiritual, peraturan dan prosedur untuk melihat segala sesuatu.

Bagi manusia yang lemah dan rapuh serta berada dalam keterbatasan ruang dan waktu – bersikeras untuk melihat Allah yang Mahakuasa, yang merupakan satu-satunya Makhluk yang Transenden, Yang Mahatinggi, Mahatinggi, Selalu Hidup dan Tidak Sama Dengan Sesuatu Apapun, adalah seuatu yang sia-sia sementara ia dipenjara dan terjebak dalam kuk materi. Bagi mereka yang mangaku pernah melihat Allah adalah merupakan kepura-puraan yang bodoh, sombong, dan tidak masuk akal.

Baca juga: Asal Mula Kehidupan, Evolusi Atau Metamorfoses?

Ketika Allah berbicara kepada Nabi Musa (Musa) di Gunung Sinai, Musa pada satu titik berkata: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”.(al-A’raf, 7: 143).

Musa meminta untuk melihat Allah karena, sebagai seorang nabi, ia tahu bahwa melihat Allah bukanlah hal yang mustahil, atau bahwa berharap, atau bahkan dengan rendah hati meminta, untuk melihat-Nya dalam situasi yang luar biasa seperti di mana Musa menemukan dirinya sendiri, adalah penghujatan.

Ketika Allah menjawab permintaan Nabi Musa Untuk melihatNya, maka Allah menjawab “ tidak akan, juga tidak bisa, melihatKu”, Ini adalah hanya berada dalam konteks alam ini saja – seperti halnya pandangan mufassir.

وَلَمَّا جَاءَ مُوسَىٰ لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ ۚ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَٰكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (al-A’raf, 7: 143).

Ketika Nabi Muhammad (saw) ditanya apakah dia telah melihat Allah pada malam Mi’raj (kenaikan ke surga), dia menjawab: “(Dia terselubung oleh) Cahaya, bagaimana saya bisa melihat-Nya?” (Sahih Muslim).

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (al-Anam: 103).

 

Sumber: www.islamicity.org

Tulisan: Dr. Saphic Omeir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed