Al-Qur'an Dan SainsIslamKeagunganNyaSainsUncategorized

Proses Perkembangan Janin Dalam Embriologi Al-Qur’an

 1400 tahun yang lalu ketika manusia belum mengenal mikroskop dengan tekhnologi tinggi, juga peralatan USG yang dapat digunakan untuk melihat janin di dalam kandungan, Al-Qur’an telah meberitakan perkembangan janin  secara detail dengan menggunakan bahasa Arab yang dapat difahami sejak Al-Qur’an diturunkan hingga sekarang.
Pada awalnya berita tentang embriologi ini diterima oleh Umat Islam sebagai bentuk ketaatan terhadap Al-Qur’an sebagai salah satu pedoman utama mereka. Seiring dengan perkembangan jaman, apa yang diberitakan oleh Al-Qur’an tentang perkembangan janin tersebut kemudian dibuktikan dengan tekhnologi yang tentu semakin membuka mata orang-orang yang memandang Al-Qur’an dengan skeptis. Bagi Umat Islam penemuan kebenaran Al-Qur’an tersebut tentu sudah diyakini sebelumnya karena mereka yakin bahwa Al-Qur’an merupakan sumber berita paling valid di dunia ini.

Informasi Perkembangan Janin Dalam Al-Qur’an

Dalam Al-Qur’an, Allah berbicara tentang tahap-tahap perkembangan janin manusia:
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. [QS. al-Mukminun (23):12-14]

Secara harfiah, Bahasa Arab alaqah memiliki tiga arti:
(1)    Lintah,
(2)    Hal ditangguhkan, dan
(3)    Gumpalan darah.

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Dalam proses perkembangan janin kita dapat membandingkan lintah dengan  embrio dalam tahap alaqah, kita menemukan kesamaan antara keduanya,  sebagaimana dapat kita lihat pada gambar 1. Juga, embrio pada tahap ini memperoleh makanan dari darah ibu, mirip dengan lintah, yang menghisap  darah orang lain.3

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Gambar 1: Gambar menggambarkan kesamaan dalam penampilan antara lintah dan embrio manusia pada tahap alaqah. (Bentuk lintah pada proses pembaentukan manusia seperti Dijelaskan dalam Al-Quran dan Sunnah, Moore and others, p. 37, modified from Integrated Principles of Zoology, Hickman and others.  Embryo drawing from The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 73.)

Arti kedua dari alaqah dalam proses perkembangan janin Kata “hal yang ditangguhkan ” Ini adalah seperti  apa yang dapat kita lihat dalam angka 2 dan 3, suspensi embrio, selama tahap alaqah, di dalam rahim ibu.

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Gambar 2: Kita bisa melihat dalam diagram ini suspensi embrio yang terjadi  selama tahap alaqah dalam rahim (uterus) sang ibu. (The Developing Human, Moore dan Persaud, edisi ke-5., P. 66.).

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Gambar 3: Dalam fotomikrograf ini, kita bisa melihat suspensi embrio (ditandai B) selama tahap alaqah (sekitar 15 hari) di dalam rahim ibu. Ukuran sebenarnya dari embrio sekitar 0,6 mm. (The Developing Human, Moore, 3rd ed., P. 66, dari Histologi, Leeson dan Leeson.)

Arti ketiga dari kata alaqah dalam perkembangan janin dalam Al-Qur’an  adalah “gumpalan darah.” Kami menemukan bahwa penampilan eksternal dari embrio dan kantungnya selama tahap alaqah adalah mirip dengan gumpalan darah. Hal ini disebabkan adanya darah  yang relatif besar yang hadir di dalam embrio selama tahap 4 ini (lihat gambar 4). Juga selama tahap ini, darah di dalam embrio tidak bersirkulasi sampai akhir minggu 5 ketiga, embrio pada tahap ini menyerupai gumpalan darah.

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Gambar 4: Diagram dari sistem kardiovaskular primitif dalam embrio selama tahap alaqah. Penampilan eksternal dari embrio dan kantungnya mirip dengan sebuah gumpalan darah, karena adanya kehadiran darah dalam jumlah yang relatif besa  di dalam embrio. (The Developing Human, Moore, edisi ke-5., P. 65.)
Jadi tiga arti dari kata  alaqah sangat sesuai dan akurat dengan deskripsi embrio pada tahap perkembangan janin seperti yang disebutkan diatas.

Tahap berikutnya dalam perkembangan janin  yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah tahap mudghah.Dalam bahasa Arab kata  mudghah berarti “subtansi yang dikunyah.” Jika orang  mengambil permen karet dan mengunyahnya di dalam mulut dan kemudian membandingkannya
dengan embrio pada tahap mudghah, kita akan menyimpulkan bahwa embrio tahap mudghah  mengakuisisi penampilan sebuah bentuk sesuatu yang dikunyah. Hal ini karena dari somit di belakang embrio yang “agak menyerupai tanda bekas gigi dalam substansi yang dikunyah.” 6 (lihat angka 5 dan 6).

Gambar 5: Foto dari embrio pada tahap mudghah (28 hari). Embrio pada tahap ini menyerupai  penampilan zat yang dikunyah, karena somit di belakang embrio agak menyerupai tanda gigi pada benda yang dikunyah. Ukuran sebenarnya dari embrio dalam tahap ini adalah 4 mm. (The Developing Human, Moore dan Persaud, edisi ke-5., P. 82, dari Profesor Hideo Nishimura, Universitas Kyoto, Kyoto, Jepang.)

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

Gambar 6: Ketika membandingkan penampilan embrio pada tahap mudghah dengan sepotong permen karet yang telah dikunyah, kita menemukan kesamaan antara keduanya.

Informasi Tentang Perkembangan Janin Dalam Al-Qur'an Membuat Para Ilmuwan Kagum

A) Gambar embrio pada tahap mudghah. Kita bisa melihat di sini somit di belakang embrio yang terlihat seperti tanda gigi. (The Developing Human, Moore dan Persaud, edisi ke-5., P. 79.)
B) Foto dari permen karet yang telah dikunyah.

Bagaimana mungkin Muhammad telah mengetahui semua ini pada 1400 tahun yang lalu, ketika para ilmuwan dapat mengetahuinya pada saat ini dengan menggunakan peralatan canggih dan mikroskop dengan tekhnologi tinggi yang tidak ada pada waktu itu dan bahkan mungkin tidak terfikirkan. Hamm dan Leeuwenhoek adalah ilmuwan pertama yang mengamati sel sperma manusia (spermatozoa) dengan menggunakan pada tahun 1677 (lebih dari 1000 tahun setelah Muhammad). Mereka keliru mengira bahwa sel sperma yang terdapat miniatur preformed manusia yang tumbuh ketika disimpan didalam sistem.7 alat kelamin perempuan

Profesor Emeritus Keith L. Moore8 adalah salah satu ilmuwan yang  paling terkemuka di bidang anatomi dan embriologi dan merupakan penulis buku berjudul The Developing Human, yang telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini merupakan karya referensi ilmiah dan dipilih oleh sebuah komite khusus di Amerika Serikat sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Dr Keith Moore adalah Profesor Emeritus Anatomi dan Biologi Sel di Universitas Toronto, Toronto, Kanada. Dia juga merupakan  Dekan Associate Ilmu Dasar di Fakultas Kedokteran dan selama 8 tahun menjabat Ketua Departemen Anatomi. Pada tahun 1984, ia menerima penghargaan paling terkemuka di bidang anatomi di Kanada, Canada, the J.C.B. Grant Award from the Canadian Association of Anatomists.. Dia juga telah memimpin  banyak asosiasi internasional, seperti Asosiasi Kanada dan Amerika untuk Anatomi dan Dewan Uni Ilmu Biologi.

Pada tahun 1981, selama Konferensi Kedokteran Ketujuh yang didelenggarakan di Dammam, Arab Saudi, Profesor Moore mengatakan: “Ini telah menjadi kesenangan bagi saya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan dalam Quran tentang perkembangan manusia. Hal ini jelas bagi saya bahwa pernyataan ini pasti datang ke Muhammad dari Allah, karena hampir semua pengetahuan ini tidak ditemukan sampai beberapa abad kemudian. Hal ini membuktikan kepada saya bahwa Muhammad pasti seorang utusan Tuhan. “9

Atas dasar pernyataannya tersebut, Profesor Moore mendapatkan pertanyaan: “Apakah ini berarti bahwa Anda percaya bahwa Quran adalah firman Allah?” Dia menjawab: “. Saya tidak menemukan kesulitan dalam menerima ini” 10

Selama konferensi tersebut, Profesor Moore juga menyatakan: “…. Karena proses embrio manusia ini kompleks, juga karena proses perubahan yang berkelanjutan selama perkembangan, diusulkan bahwa sistem baru klasifikasi dapat dikembangkan dengan menggunakan istilah seperti yang disebutkan di dalam Quran dan Sunnah (apa yang dikatakan Muhammad, lakukan, atau setujui). Sistem yang diusulkan sederhana, komprehensif, dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.

Studi intensif Quran dan hadits ( yang sahih yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi Muhammad dari apa yang dia katakan, dilakukan, atau disetujui oleh Muhammad) dalam empat tahun terakhir telah mengungkapkan sebuah sistem untuk mengklasifikasikan embrio manusia pada perkembangan janin yang menakjubkan sejak tercatat di abad ketujuh Masehi Meskipun Aristoteles, pendiri ilmu embriologi, telah mengamati bahwa embrio ayam berkembang secara bertahap dari penelitiannya terhadap telur ayam, yang dilakukan pada abad ke-empat Sebelum Masehi, dan ia tidak memberikan rincian tentang tahap-tahap ini.

Sejauh diketahui dari sejarah embriologi, hanya sedikit yang diketahui tentang proses dan klasifikasi embrio manusia sampai abad kedua puluh. Untuk alasan ini, deskripsi embrio manusia dalam Al-Quran tidak bisa didasarkan pada pengetahuan ilmiah yang ada pada abad ketujuh. Satu-satunya kesimpulan yang masuk akal adalah bahwa deskripsi ini diturunkan kepada Muhammad dari Allah. Dia tidak dapat mengetahui rincian seperti itu karena ia adalah seorang yang buta huruf dan juga benar-benar tidak pernah mendapatkan pelajaran ilmiah tentang embriologi. “11

Yang kita ketahui masa kecil Muhammad adalah seorang penggembala domba dengan akhlak mulia dan pada masa dewasa dia adalah seorang pedagang. Tidak ada literature sejarah yang menemukan dan membuktikan dirinya terlibat dalam menuntut ilmu tentang sains pada seseorang juga kegiatan ilmiah pada masa kehidupannya termasuk juga keterlibatannya dalam mempelajari perkembangan janin dalam kandungan.

Catatan kaki:
(1) Please note that what is between these special brackets  …  in this web site is only a translation of the meaning of the Quran.  It is not the Quran itself, which is in Arabic. Back from footnote (1)
(2) The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 8. Back from footnote (2)
(3) Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore and others, p. 36. Back from footnote (3)
(4) Human Development as Described in the Quran and Sunnah, Moore and others, pp. 37-38. Back from footnote (4)
(5) The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 65. Back from footnote (5)
(6) The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 8. Back from footnote (6)
(7) The Developing Human, Moore and Persaud, 5th ed., p. 9. Back from footnote (7)
(8) Note: The occupations of all the scientists mentioned in this web site were last updated in 1997. Back from footnote (8)
(9) The reference for this saying is This is the Truth (videotape).  For a copy of this videotape, please visit this page. Back from footnote (9)
(10) This is the Truth (videotape). Back from footnote (10)
(11) This is the Truth (videotape).  For a copy, see footnote no. 9. Back from footnote (11)

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Silahkan nonaktifkan adblock anda untuk membaca konten kami.
Segarkan